Archive for May, 2006

Traumatis

Tuesday, May 9th, 2006

Aku teringat dgn sebuah
kisah di suatu bagian hidupku… Sebenarnya aku tdk ingin
menceritakannya lagi, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu
teringat pada kisah ini… Begini kisahnya.

Suatu hari saat aku masih
berada di kelas 2 SMP, seperti biasa sore itu aku pulang terlambat ke
rumah. Jadwal pulang sekolahku adalah jam 15.30, sementara sering
sekali aku pulang jauh melewati jam itu, ngobrol ngalor-ngidul,
bercanda dan menghabiskan waktu dgn teman-temanku. Padahal jarak
SMP-ku dgn rumah tdklah terlalu jauh, bisa ditempuh dgn waktu
maksimal 30 menit. Saat itu aku pulang sekitar pukul 17.15, hampir 2
jam lewat dari jam bubar sekolah.

Ketika aku sampai di
pintu rumah, belum sempat aku mengucap salam, ibuku sudah membukakan
pintu. Beliau menyambutku dgn wajah yg… sulit digambarkan. Rasa
kecewa, marah, sedih, sebal, dll tampaknya menjadi satu menghiasi
hatinya saat itu. Lalu beliau segera masuk tanpa menyambutku dgn
tatapan dan sentuhan kasih sayang yg biasanya beliau berikan. Yg
paling membuatku terpukul adalah sikap beliau yg amat dingin dan
mengacuhkanku. Sampai-sampai ayahku heran melihatnya. Ya… tak bisa
kulupakan raut wajah itu… dingin sekali… dan saat itu aku
benar-benar terhempas, dan sangat kecewa dgn diriku sendiri… Sampai
waktu itu aku sempat berpikir aku lebih baik pergi saja dari dunia
ini (astaghfirullah…) daripada melihat beliau sebegitu kecewanya
karena aku… Aku telah mengkhianati kepercayaannya… Dan bodohnya
aku, aku begitu takut bahkan untuk sekadar mengucap kata maaf pada
beliau… Dan kata maaf itu pun tak pernah terucap…

Memang saat keesokan
harinya dan hari-hari berikutnya beliau sudah tdk marah lagi padaku.
Sudah mulai tersenyum dan biasa lagi padaku. Tapi tetap saja…
Mungkin satu pekan atau lebih setelah kejadian itu aku masih tetap
tdk berani menatap mata ibu… Dan aku selalu mengelak saat beliau
mencoba mengungkapkan kasih sayangnya lewat sentuhan, cubitan kecil,
ataupun sekadar mengacak-acak rambutku. Aku merasa tdk berhak
menerima semua itu. Dan kebiasaan mengelak itu pun terbawa sampai
sekarang. Aku takut mereka suatu saat akan terluka karenaku atau
kecewa padaku, lalu pergi… Akan sulit menghapus semua ungkapan
kasih sayang itu dari ingatanku… Maka itu aku lebih memilih untuk
mengelak… Walaupun jujur sebenarnya aku senang jika ada org yg
mengungkapkan kasih sayangnya padaku…

Aku memang merasa ini
adalah sebuah sifat yg aneh, seperti anak kecil yg ketakutan pd hal
yg sebenarnya tdk perlu ditakuti… Tapi dari ini aku mencoba belajar
untuk selalu bisa memaafkan org lain, betapapun dia telah membuat
kenangan buruk, atau setajam dan sedalam apapun mereka telah
menggoreskan luka di hatiku. Karena aku pernah merasakan betapa
sakitnya menjadi seorang ‘terdakwa’, yg karena kesalahan yg telah
kuperbuat menyebabkan orang lain kecewa dan tersakiti…

 

090506,
17:53

Untuk
org2 yg pernah tersakiti olehku… afwan… Bukan
maksudku untuk menyakiti kalian… Karena sungguh aku juga merasakan
sakit bila kalian bersedih…
Ibu…
maafkan aku…