Archive for August, 2005

Air Mata Mutiara…

Tuesday, August 2nd, 2005

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan
pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa
disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".
Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi
mutiara." Semoga……..

amin

sumber: myquran.org

Kisah Pak Kiai dan Sopir Bus Lorena

Tuesday, August 2nd, 2005

Alkisah terjadi pada saat seleksi penerimaan penghuni surga.
Sampai akhirnya tiba pada 2 anggota peserta terkhir yang akan terseleksi, yakni seorang Kiai dan seorang sopir bis Lorena
yang terkenal suka ngebut dan ugal-ugalan dalam mengemudikan kendaraaannya sewaktu masih hidup.

Alhasil ternyata yang masuk menjadi penghuni surga adalah si Sopir Bis Lorena.
Sang kiai akhirnya protes keras kepada Allah, kenapa tidak dirinya yang masuk surga, padahal sewaktu di dunia dia terkenal
sebagai mubaligh yang giat menyebarkan agama islam dan mengisi khutbah jum’at? Kenapa kok malah yang masuk surga
seorang sopir yang record ugal-ugalannya tertinggi di catatan kantor polisi?
Akhirnya Allah menjawab " Kamu tidak saya masukkan surga adalah karena sering ketika kamu berkhutbah di dunia kamu
tidak pernah memperhatikan yang mendengarkan, kamu terlalu panjang dalam berkhutbah yang akhirnya banyak yang
mendengarkan menjadi tertidur dan terlupa kepadaKU, wahai Pak Kiai , Sedangkan si Sopir Bis Lorena justru karena
ugalan-ugalannya dan ngebutnya sehingga menyebabkan para penumpangnya ketakutan sehingga tidak henti-hentinya menyebut
namaKU."